Usage domestique Super Doux Microfibre Nettoyage Domestique Vadrouille Têtes 360 Degrés Rotation Outil De Nettoyage de Remplacement De Plancher Ronde Vadrouilles

mops esponja, 45mm mais limpo

Aperto Limpo

Eco-friendly stocked. Conjuntos de limpeza de janelas. 170824083339. Vácuo limpador de chão. Rotating mop heads. Sapatos de tabuleiro. Quadrado de 90 graus. Mop head. Dust box capacity: : 360 degree cleaning mop: Multifunction microfiber mop shoes. 

Mop Rotação Mágica

Color: Notice: Micro fiber fabric. Rotativo casa. H20 hexacopters. 145260. Sq012. Spinning floor mop head. 32x18mm. Cozinha a vácuo elétrica. Feature  : Car window household washing cleaning. 170824084717: 

Postes De Madeira

Chinelos mops. Color : 170824060747: 40% -50%. Telha comercial. Modelos de arma de plástico. 993-050. Leather style: Tissu microfibre. Feature10: Eco-friendly  stocked. 99832. Support. 

Clipe Mop Gancho

Wholesale esfregões de limpeza. Tb001. Netfeature. 102501. Remoção de água. Fita de titularização. Frasco de spray pulverizador. Coral velet. Other. 170824072506: 170824094356: Shoes mop. Product name: Feature3: 


hagia.. Jika katakata senja sudah kau..." />< meta name="twitter:app:name:googleplay" content="Tumblr" /><"http://hitarisenja.tumblr.com/page/3" />
🌸 *Mukhoyyam Al-Qur'an Chapter Balaraja* 🌸
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
πŸ‘‰Buat kamu para siswi-siswi SMP dan SMA di wilayah Balaraja dan sekitarnya, , ada kegiatan yang bermanfaat nih.
Khusus untuk perempuan πŸ’…πŸ»πŸ‘©πŸ»
Kegiatan menghafal...

🌸 *Mukhoyyam Al-Qur'an Chapter Balaraja* 🌸

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

👉Buat kamu para siswi-siswi SMP dan SMA di wilayah Balaraja dan sekitarnya, , ada kegiatan yang bermanfaat nih.

Khusus untuk perempuan 💅🏻👩🏻

Kegiatan menghafal Al-Qur'an bersama se - Balaraja. 🔥🔥
Yang targetnya kamu bakal hafal juz 30 selama 3 bulan mutqin, in syaa Allah.

Eitsss bukan cuma menghafal loh… ada juga tausiyah-tausiyah, bisa setoran hafalan, dapat tips dan trik menghafal Al-Qur'an, ada snack dan juga doorprize menarik.

Mau tau detailnya? 🤔
Check this👇

👳‍♀ Pengisi Acara : Ustadz Aan Hafilius
📆Hari/tanggal : Ahad, 01 Oktober 2017
⏰Jam : 08:00 - 15:00 WIB
🕌Tempat : Majelis AlBarokah, Kp.Merak, Kec.Sukamulya, Kab.Tangerang (Sebelah SDN 1 & 2 Merak)

🎏Yuk, mari bergabung dan isi kegiatan di hari libur dengan hal-hal yang bermanfaat. Ramaikan Balaraja dengan para hafidzah-hafidzah shalihah…😊

Dan… pastinya jika lillahita'ala akan membuahkan pahala.🤗

📝Buruan daftar karena kuota terbatas
🆓 untuk 50 peserta pertama yang mendaftar 😱

📲 Cp Mia : +62 838-9028-6307

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Ramaikan dengan hastag :
#ShalihahBareng2
#AnakGaulHafalQur'an
#Bareng2keSurga

Presented by :

👨‍👩‍👧‍👦Komunitas Keluarga Kita

Supported by :

✅Komunitas Cakep Kab.Tangerang
✅Yayasan Sahabat Muda Tangerang

4. otot kebaikan

ajinurafifah:

prawitamutia:

hampir setiap malam di kompleks kami melintas sepasang suami istri. “jieet…” kata sang suami dengan suara lantang. yap, mereka berdua menawarkan jasa pijat. dan yap, sang suami adalah seorang tunanetra. setiap malam mereka berkeliling mencari pelanggan. sang suami yang menyuarakan, sang istri yang menunjukkan jalan.

pada suatu malam, saya tinggal berdua saja dengan mbak yuna. di teras terdengar seseorang menabik salam. ternyata, bapak dan ibu pijat yang berdiri di sana.

“Neng, ibunya ada?” tanya sang istri, menanyakan ibu saya.
“nggak ada, Bu. ada apa, Bu?” saya menjawab singkat.
“ini Ibu ada telur asin. biasanya ibu suka beli …”
“oh, ibunya lagi nggak ada, Bu…”
dalam sekejap mata, bapak dan ibu pijat pun pamit, “oh, yasudah nggak papa. nuhun ya, Neng…”

saya menutup pintu, lalu sayup-sayup terdengar suara “jieet” lagi. tiba-tiba dada saya panas rasanya. kalau ada ibu di rumah, sudah hampir pasti ibu akan membeli telur asinnya. bahkan, sering-sering ibu memberikan sepuluh dua puluh ribu tanpa mengambil telurnya. saya menyesal sekali karena tidak memanfaatkan peluang berbuat baik itu, lebih menyesal lagi karena setelah saya sadar, saya tetap membiarkan suara jiet jiet itu menghilang.

saya belajar sesuatu malam itu. kerap kita mengira bahwa kita bisa berbuat baik kapan saja, di mana saja. sebenarnya iya, tetapi kadang tidak juga. ada waktu-waktu terbaik untuk melakukan kebaikan. ada kesempatan-kesempatan terbaik yang melintas hanya sekelebatan. pada satu waktu kita berhasil memanfaatkan kesempatan itu. di waktu lain saat kita kurang “mudeng”, kita kelewatan.

bisa jadi, itu karena otot kebaikan yang belum terbiasa. kita salah mengira bahwa memori manusia tersimpan di otak semata. sejatinya, setiap otot pada tubuh kita juga memiliki daya ingat—myelin namanya. otot kebaikan juga demikian, ada di kalbu, di akal, di sekujur badan. semakin sering dilatih, otot kebaikan akan semakin ingat untuk melakukan kebaikan, akan semakin otomatis bekerja.

saya pun tersadar betapa lemahnya otot kebaikan saya—karena kurang dilatih. kesempatan berbuat baik jadi terlewat begitu saja. mau berbuat baik pakai berpikir dulu. yang ada, berbuat baik tidak, menyesal kemudian iya.

ada banyak kebaikan yang hanya bernilai ketika dilakukan dengan segera. untuk bisa peka terhadap peluang itu, kita perlu latihan. latihan memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, lansia, serta penyandang cacat. latihan menyingkirkan batu yang membahayakan pengendara. latihan menyeberangkan anak-anak sekolah yang ti dak ada penjaganya. latihan melakukan kebaikan lain sampai setiap peluang kebaikan datang, kita otomatis melakukan kebaikan dengan sangat ringan dan mudah.

pada malam yang lain, saya sengaja menyiapkan uang sepuluh ribuan dan menunggu bapak ibu pijat lewat. judulnya, dalam rangka melatih otot kebaikan.

💪🏻💪🏻💪🏻

TAKUT KAU BENCI

ajinurafifah:

choqi-isyraqi:

“Mas, aku takut, kamu akan membenciku”

“Benci karena apa?” Dahinya mengkerut, matanya mendekati mataku

“Aku ini, sesungguhnya tidak pandai memasak mas”

“Tak apa, aku takkan membencimu karena itu”

“Tapi mas, bukan cuman itu, aku juga tidak pandai bersih-bersih rumah”

“Tenanglah, aku takkan membencimu karena hal itu”

“Tapi mas, masih ada, aku juga tidak paham betul ilmu-ilmu tentang menjadi ibu yang baik”

“Lalu, kenapa aku harus membencimu?”

“Aku takut mas, takut mas jadi benci karena kecewa sama aku”

Dia terdiam sejenak, menghela nafas.

“Dik, mas tentu tidak akan membencimu karena kau belum bisa mengerjakan sesuatu.”

“Lantas, apa yang bisa membuat mas membenciku?” tanyaku

“Yang bisa membuat mas membencimu? Mungkin, ketika kamu sudah tahu bahwa kamu tidak bisa, tapi kamu justru tidak belajar, melainkan cuma meratapi ketidakmampuanmu. Mungkin mas akan membenci perilaku malas belajarmu itu.”

Belum sempat aku menjawab, mas melanjutkan perkataannya tadi

“Tapi, sesungguhnya, meskipun kamu malas belajar sesuatu, mungkin mas tidak sepenuhnya membencimu. Mas justru akan lebih membenci diri mas sendiri. Kenapa mas sebagai seorang imam, tidak bisa memimpinmu untuk mau belajar lebih baik? Yah, mungkin mas harus banyak berinstropeksi diri kalau kamu banyak kekurangan”

Rasanya, baru 1 minggu kami menikah, baru 1 minggu juga kami saling bertanya dan terbuka tentang kekurangan kami masing-masing. Memang, masih panjang kisah rumah tangga kami. Tapi memiliki mas sebagai imam, aku rasa kehadirannya membuatku tenang dalam menjalani bahtera rumah tangga ini.

Terima kasih, mas.

 

TAKUT KAU BENCI
Bandung, 24 Agustus 2017


©Choqi-isyraqi

koq kaya aku wkwkwkkw

jangan jangan rumahku dipasangin alat penyadap sama mas choqi pas kmrn main ke rumah.

:)

SPN #7 : Manajemen Keuangan Rumah Tangga

kurniawangunadi:

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Pada pertemuan ke-7 ( 7 April 2013 ) ini akan dibahas mengenai Manajemen Keuangan, bagaimana cara mengelola perekonomian keluarga agar tercipta kehidupan rumah tangga yang stabil dan harmonis. Ibarat sebuah negara, keluarga adalah miniatur sebuah negara dimana didalamnya terdapat RAPBN yang akan dijalankan oleh negara tersebut. Strategi dan aneka langkah taktis digunakan untuk membuat neraca nya jangan sampai defisit.

Dalam mengawali kehidupan rumah tangga, kita sering mendengar pasangan didoakan untuk menjadi keluarga yang sakinah-mawadah-warrahmah, dalam bahasa yang lebih sederhana ketiga hal tersebut adalah “hayatan thayyiban” ( kehidupan yang baik ).

Seperti apakah kehidupan yang baik itu ?

Dalam masyarakat saat ini, kehidupan yang baik dapat diindikatorkan pada religius-sosial-materi-kesehatan, keempat hal tersebut seimbang. Tidak berat salah satu atau kurang salah satu.

Contoh, kita rajin beribadah namun tidak bersosial dengan masyarakat disekitar kita, itu tentu tidak baik. Jika ingat sebuah cerpen dari A.A Navis - Robohnya Surau Kami, cerita disana dapat menjadi gambaran hubungan dengan Allah juga harus diimbangi dengan hubungan kepada sesama manusia.

MATERI

Materi tidak melulu berkaitan dengan uang, dalam pernikahan, untuk mencapai beberapa keinginan/kebutuhan selalu dibutuhkan adanya materi. Suami diwajibkan mencari nafkah dan menafkahi secara layak keluarganya.

Hidup adalah proses perjalanan, dimana setiap perjalanan selalu ada tujuan. Pernikahan adalah proses perjalanan, dalam kehidupan rumah tangga akan selalu diwarnai dengan cita-cita dan keinginan. Keinginan memiliki rumah, keinginan memiliki kendaraan yang layak, p akaian yang bagus, pendidikan yang paling baik untuk anak-anak, berlibur, dan aneka keinginan lain yang mau tidak mau membutuhkan materi yang cukup banyak.

Perlu adanya kesepahaman dan kesepatakan antara suami dan istri dalam mengatur perekonomian keluarga, hal ini harus dilakukan agar cita-keinginan tersebut dapat diwujudkan bersama-sama.

Suami bekerja mencari nafkah adalah salah satu bentuk kecintaannya kepada istri-anak nya, rasa cinta yang mendorongnya terus bekerja keras demi mewujudkan kebahagian dan rasa nyaman dalam kehidupan rumah tangganya, memenuhi segala kebutuhannya.

Istri dalam banyak fakta adalah pengatur keungan rumah tangga yang dominan, peranan perempuan dalam rumah tangga untuk menjaga kestabilan ekonomi sangat besar. Perempuan disifati dengan sifat cermat, tidak seperti laki-laki yang cenderung ceroboh-tidak teliti. 

PENGATURAN PEMASUKAN

Pendapatan baik berupa uang atau wujud lain harus dipastikan bahwa uang terse but tidak hanya halal, namun juga baik. 

Harta suami adalah milik istri, namun harta istri tetaplah milik istri dimana laki-laki tidak boleh menggunakan tanpa seijin istrinnya. Pemasukan yang didapatkan harus diantur cash flow nya agar terencana dengan cermat setiap pengeluaran yang dilakukan dan memastikan pemasukan berasal dari sumber yang jelas. Hal ini untuk menghindari kita dari penggunaan harta yang sia-sia.

Kita harus paham bahwa rejeki itu berasal dari Allah, segala hal yang kita miliki adalah titipan. Jadikanlah harta yang kita miliki ini digunakan untuk mencapai tujuan yang diridhai Allah.

Bagaimana cara kita mengoptimalkan harta yang kita miliki di jalan Allah inilah yang akan menjadi bahasan tersendiri. Dalam kehidupan disaat ini, banyak sekali godaan untuk menggunakan harta tersebut secara sia-sia. Gaya hidup konsumtif dan hedonisme telah menjarah pemahaman kita bahwa harta kita ini sejatinya didalamnya ada hak-hak lain yang harus kita tuna ikan. Didalamnya ada hak anak yatim, ada hak Allah pula yang terkandung. 

Masalah pendapatan ini sangat rahasia, jika suami seorang pegawai dengan gaji tetap, ada titik terang yang pasti bahwa ada sekiah rupiah yang masuk, namun tetap saja pengaturan Allah tentang rejeki ini sangatlah rahasia. Bahwa setiap makhluk telah dijamin rejekinya melalui berbagai jalan yang tidak terduga. 

Kadang pemasukan pun datang dari sumber yang tidak terduga sama sekali,  bentuk yang diperoleh pun tidak sekedar uang, bisa jadi bingkisan kue dari rekan, kado dari tetangga, atau sekedar ajakan makan siang gratis atau bahkan menang kuis berhadiah.

PEMBELANJAAN HARTA

Dalam membelanjakan harta, suami dan istri harus memiliki kesepakatan dan pemahaman yang sama, bahwa harta adalah titipan, didalamnya terkandung hak-hak lain yang harus ditunaikan, diantaranya hak Allah dan hak orang lain.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan diagram dan uraian dibawah :< /p>

image


PEMASUKAN

Dalam uraian mengenai pemasukan diatas, telah dipahami bahwa pemasukan haruslah halal dan baik ( halalan thayiban ). Suami khususnya sebagai orang yang wajib menafkahi keluarga harus selektif dalam mencari nafkah, sumber harus halal, caranya juga harus halal. Yang halal pun tidak selamanya baik. Menafkahi keluarga haruslah dari harta yang halal dan baik. 

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan …. ( QS. 2:168 )

Istri juga harus mengingatkan suami mengenai harta yang masuk, jangan sampai keluarga diberi makan dari sumber yang haram. Harus ada filter halal-haram yang kuat pada diri suami dan istri. Agar dalam keadaan terdesak tidak menggun akan cara haram untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya.

PENGELUARAN

Pada urian pengeluaran, kami sajikan urutan prioritas pengeluaran yang harus dipahami dengan benar oleh kita.

PRIORITAS 1 : HAK ALLAH

Dari pemasukan yang kita peroleh, pengeluaran pertama yang harus kita keluarkan adalah Hak Allah. Hak ini berupa ZIS ( Zakat, Infaq, Sedekah ). Ambilah sebagian dari harta tersebut pertama-tama untuk hak Allah. Hal pertama ini harus disepakati oleh suami-istri sejak awal, jika tidak bisa menjadi masalah, dimana salah satu lebih mengutamakan kepentingan keinginan terlebih dulu daripada menunaikan hak Allah ini.

Harta adalah titipan, didalamnya Allah menitipkan haknya pula. Membelanjakan harta dijalan Allah akan lebih banyak manfaat dan pahalanya.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-t iap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ( QS. 2:261)

PRIORITAS 2 : HAK ORANG LAIN

Hak orang lain meliputi hutang (apabila memiliki hutang) harus dibayar lebih dulu, gaji asisten rumah tangga/PRT, dan orang lain yang memang harus kita “bayar” dengan harta kita. Bayarkanlah dulu hak mereka.

PRIORITAS 3 : HAK MASA SEKARANG

Barulah setelah 2 hak prioritas sebelumnya telah ditunaikan, prioritas ketiga ini adalah hak saat ini, yakni memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli ini itu untuk keberlangsungan kehidupan rumah tangga. Membayar tagihan rumah, biaya pendidikan, ongkos bensin, dan lain-lain. Belanjakanlah harta sesuai dengan kebutuhan. Hindari sifat konsumtif, membeli barang-barang yang tidak diperlukan hanya karena keinginan dan hawa nafsu.

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. 25:67)

PRIORITAS 4 : HAK MASA DEPAN

Hak ini paling akhir, apabila ada kelebihan harta setelah kita memenuhi 3 hak sebelumnya, waktunya harta tersebut ditabungkan untuk perancangan masa depan, dapat pula diinvestasikan dalam bentuk lain seperti sawah, ternak, asuransi syariah, dan lain-lain. Masa depan memang perlu dipesiapkan dan diantisipasi. 

Harta yang berlebih itu bisa digunakan untuk cadangan dan jaga-jaga dimasa mendatang.

Demikianlah pembahasan sederhana mengenai pengaturan keuangan dalam rumah tangga, pembahasan diatas dibuat secara garis besar. Sebab pada faktanya, perekonomian masing-masing keluarga berbeda-beda. Tingkat ekonomi yang berbeda-beda, akan tetapi pada dasarnya, pelaksanaannya sama.

Ingatlah bahwa harta adalah titipan, padanya disematkan pula tanggungjawab yang ha rus kita tunaikan. Sebagai seorang muslim, kita harus menggunakan segala pemberian Allah  ini seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik. Mencapai tujuan kita tanpa harus melanggar larangan Allah. 

—————————————————————————-

Sekian uraian singkat materia SPN #7, seluruh tulisan mengenai SPN dapat disimak melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

Penulis menerima masukan, kritik, dan diskusi untuk menyebarluaskan setiap huruf ilmu.

Jzk

masyaa Allah, bermanfaat ilmunya :)

Tulisan : Jodoh dan Kualitas

kurniawangunadi:

kurniawangunadi:

Jodoh bukanlah tentang siapa dia, tapi bagaimana aku - nn

____________________________________________________

Ini menarik, Allah tidak mengatakan secara langsung dalam Al Quran yang mulia bahkan Nabi dengan hadistnya yang menyatakan bahwa jodoh kita telah ditulis berupa nama seseorang. Bahwa Fulan akan berjodoh dengan Fulanah.

Beberapa dari kita juga ramai membicarakan tentang memperbaiki kualitas diri tanpa tahu apa yang mendasarinya. Bermodal yakin pada sebuah janji Allah saja. Bahwa perempuan baik-baik akan berjodoh dengan laki-laki baik-baik dan sebaliknya. Tanpa mempertimbangkan lagi dan bertanya, seperti apa penilaian dan kriteria baik tersebut menurut Allah.

Meski kita telah berupaya menghapalkan aneka surat dalam quran, shalat wajib dan sunah. Puasa senin-kamis. Apakah kita telah dinilai seorang yang teramat baik sehingga kita pantas mendapatkan seorang bidadari atau seorang pangeran?

Itulah yang Allah rahasiakan, bagaimana cara Allah memasangkan hamba-hamba-Nya. Seperti pada pembuka tulisan, tak satupun dari kalimat quran dan hadist yang mengatakan bahwa jodoh telah ditetapkan berupa seseorang dengan seseorang.

Allah menjodohkan “kualitas”.

Mari saya ajak bertamasya pikiran ala kurniawangunadiologi.

Fyi, saya termasuk orang yang percaya bahwa kalimat al quran akan dipahami orang secara berbeda-beda tergantung pada kadar iman dan kadar ilmunya. Serta tujuannya.


QS An Noor ayat 3

Laki-laki berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

QS An Noor ayat 26

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). dan wanita-wanita baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik-baik (pula). ……

Perhatikan, Allah memasangkan kualitas

Pezina/Musyrik <<—->> Pezina/Musryik

Keji <<—->> Keji

Baik-baik <<—->> Baik-baik

Mukmin <<—->> Mukmin

Mari kita perhatikan kode dari Allah ini. Dalam banyak kasus di masyarakat kita. Kita menjumpai ada seorang perempuan yang baik tapi suaminya jahat amit-amit jabang bayi.

Kita juga mendapati ada seorang laki-laki yang maaf
( cacat secara fisik baik itu pendek, dsb ) tapi m endapatkan perempuan yang normal dan baik.

Anomali kan ? itulah Allah yang maha rahasia. Cara kerja Allah tidak pernah bisa dipahami dengan logika manusia bukan? Karena logika kita sendiri diciptakan oleh-Nya.

Mari lagi-lagi saya ajak bertamasya pikiran.

Allah mengajarkan kita melalui berbagai anomali, jika kita dilahirkan normal dengan keadaan fisik yang sempurna. Mengapa harus ada yang lahir cacat padahal Allah bisa dengan mudah melahirkan mereka dalam keadaan yang sama seperti kita. Jawabannya : agar kita berpikir - belajar - memahami.

Sama pula dengan jodoh tadi.

Allah sama sekali tidak mengatakan bahwa Kurniawan Gunadi akan berjodoh dengan siapa misalnya. Tapi yang dijodohkan adalah kualitas kurniawan gunadi saat ini berjodoh dengan kualitas seorang perempuan di seberang sana.

KUALITAS !

Nah, yang udah sering bicara tentang meningkatkan kualitas diri.

Ada satu hal yang sekali lagi harus dipahami dengan tepat dan dal am. Bahwa ukuran kualitas kita bukanlah kita yang menilai, tapi Allah. Dan kualitas itu saya pahami diukur secara menyeluruh. Total.

Bisa jadi kamu adalah perempuan yang amat sangat menutup aurat - tilawahnya bagus - hapalannya banyak dan segala kebaikan lainnya tapi Allah menjodohkanmu pada seorang laki-laki yang sebaliknya, hafalannya buruk - bacaan qurannya kurang lancar - suka melamun.

Lantas, apakah kamu serta merta menolak semua “takdir” itu. Maka seperti melihat sebuah daun, jika orang kebanyakan hanya melihat daun dari tampak atas, mari kita lihat daun dari bahwa dimana tulang-tulang daun begitu menonjol, permukaan yang lebih kasar daripada permukaan atasnya.

Allah menjodohkan kualitas itu secara total. Apakah kamu melihat bahwa laki-laki tadi memiliki kebaikan dalam sisi yang lain. Laki-laki tersebut amat bertanggung jawab pada hidupmu. Yang setiap bertemu pada ayah-ibumu perkataannya lembut dan selalu mencium tangan mereka.

Sama halnya pad a laki-laki sok idealis yang menginginkan istri layaknya Khadijah r.a. Apakah dia telah sepadan dengan Nabi SAW?

Jika perempuanmu ini tidak pintar memasak, pencemburu yang amat sangat, cerewet dan sangat teliti. Agamanya belum baik, bahkan mungkin tingkat pendidikan formalnya jauh dibawahmu. Atau gara-gara perempuan tersebut belum menutup aurat dgn baik, belum berkerudung seperti harapanmu misalnya. Apakah kamu sebagai laki-laki serta merta menolak semua itu. Tanpa mau sedikitpun melihat kualitasnya yang lain. Dia yang sangat menyayangi anak-anak, dengan ketelitian dan cerewetnya dia selalu mengingatkanmu dalam hal-hal baik. Dia tidak bisa memasak bukan sebuah masalah besar bukan ? Kamu tetap masih bisa makan.

Ingat saja Allah itu bilang, Arrijalu Qowwamuna ‘Alannisa | (QS. An Nisa : 34). Kalian (laki-laki) sengaja diciptakan untuk menjadi pemimpin bagi mereka (perempuan), maka jadilah pemimpin yang baik, yang melindun gi, yang membimbing, yang bijak. Pemimpin yang baik juga harus mendengarkan orang yang dipimpinnya ! Bukan begitu?

Soal kualitas, itulah. Kita harus melihat kualitas jodoh kita nanti secara menyeluruh, bukan secara parsial. Manusia jenis kita ini lebih suka melihat seseorang dari sisi buruknya lantas dengan itu kita menggugurkan segala sisi baiknya.

Kita tentu memiliki kriteria masing-masing dan tentang seperti apa jodoh yang kita harapkan. Ya itu manusiawi.

Mari kita perbaiki kualitas diri kita dan tetaplah berpegang teguh pada satu keyakinan. Bahwa jodoh kita nanti adalah orang yang kualitas totalnya setara dengan kita. Kualitas yang Allah nilai, bukan yang manusia nilai.

Terus ada yang tanya, gimana kalau cerai ? Berpikir balik saja, berarti kualitas mereka tidak lagi setara. Suami-istri tidak mampu mempertahankan kesetaraan kualitas secara bersama. Cerai adalah ketika kualitas keduanya jurangnya sudah terlampau jauh. Pernikahan adalah sebuah lembaga bag i suami-istri untuk saling dan sama-sama meng-upgrade kualitas nya. Bukan hanya salah satu :)

Gimana kalo membujang sampai mati ? Ada 2 kasus: pertama orang yang sengaja men-single-kan diri. Menolak menikah tanpa alasan yang logis seperti sakit keras, menderita sakit menular, dan sebegainya. Telah jelas bahwa mungkin Allah melihat bahwa kualitas dirinya telah jatuh hingga tak satupun perempuan/laki2 di muka bumi ini yang kualitasnya sama dengannya. Nabi sendiri mengatakan bahwa, tidak termasuk umatnya bagi orang yang membenci sunahnya. Kasus kedua, orang yang tak kunjung bertemu jodohnya meski telah berusaha mencari tapi tidak ketemu-ketemu sampai mati. Karena hukum nikah itu bukan fardhu'ain. Allah lebih memahami perkara ini, saya sendiri belum menemukan pemahaman yang tepat mengenai anomali yang satu ini. Bisa jadi Allah mempersiapkan untuknya yang lain di akhirat sebagai pengganti atas keimanannya dan ketaqwaannya. Atau wallahu'alam. Semoga Allah melindungi saya dari dosa atas jawaban yang seenaknya ini.

Allah merahasiakan jodoh agar kita mengusahakannya kan? Kita mau ngambil dengan jalan halal atau haram, kitalah yang pilih. Jodoh tidak akan tertukar, karena seolah-olah kita sendirilah yang “menentukan” keputusan Allah tersebut.

Manusia seperti kita ini sejak lahir telah diilhami untuk memilih jalan baik atau buruk. Saya pernah mengatakan bahwa pacaran tidak serta merta membuat jodoh itu dekat,pun jomblo tidak akan membuat jodohmu menjadi jauh.

Ingat sekali lagi. Jodoh bukanlah perkara pasangan nama, namun pasangan kualitas. Selamat memperbaiki diri. :D

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).

Bandung, 9 Mei 2013

Tulisan : Rasa Cenderung, Tenteram, Kasih, dan Sayang

kurniawangunadi:

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)

Kembali dengan diskusi saya bersama teman baik yang dulu juga membahas masalah bagaimana kita memilih pasangan hidup sementara kita adalah orang-orang yang tidak pacaran. Saya pernah menuliskannya di tulisan dengan judul Dengan Siapa. Silakan baca dulu tulisan tersebut ( klik di sini ) sebelum meneruskan tulisan ini.

Kami bukanlah ahli agama, tapi kami percaya bahwa Quran adalah kitab yang benar. Apapun yang disampaikan disana kami imani dengan semaksimal mungkin. Meski kadang kami bertanya-tanya bahkan seringkali menyangkal.

Membahas mengenai pasangan hidup memang menyenangkan di usia seperti ini. Karena agama ini mengatur segala hal dari bangun tidur hingga bangun negara, maka proses-proses tentang mencari pasangan hidup pun tak akan luput dari aturan-Nya. Diskusi malam ini via line cukup menyenangkan. Pemahaman baru pun masuk. Kami tidak pernah mendengarkan ceramah seperti ini sebelumnya, Mungkin saja Allah memberikan pemahamannya bagi orang-orang yang benar-benar mencari, dan kami mencari, dan inilah yang kami dapatkan.

Di umur 20+ seperti ini. Pikiran kita akan dipenuhi rasa tanya tentang siapakah sosok pendamping hidup kita. Semua berusaha mencari, ada yang menggunakan caranya sendiri, cara ala-liberal, cara islam, dll. Bagi kami, karena ka mi adalah islam dan islam menyediakan jawabannya. Maka kami akan menggunakan cara yang agama kami tuntun. Bukan yang lain. Sebab bagi kami, agama hanya omong kosong jika tidak diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan.

Ditengah gempuran budaya barat dan pemahaman dalam masyarakat yang mewajarkan hubungan sebelum pernikahan yang tidak halal. Kami berusaha bertahan dan mencari argumentasi terbaik untuk mengajak sebanyak mungkin orang kembali kepada pemahaman agama yang lurus. Salah satu godaan terbesar memang syahwat. Kecenderungan lawan jenis dan ini sangat rawan di usia pra-nikah. Jika tidak dibentengi dengan pemahaman yang kuat dan fundamental. Seorang yang nampak alim, berkopiah sarung kemana-mana, hafalannya segudang, jilbabnya lebar kemana-mana, dan sejenisnya bisa terjerumus.

Dari Quran Surat Ar Rum ayat 21. Kami terpesona dengan apa yang Allah sampaikan. Meski kami seringkali melihatnya di lembar undangan walimah. Atau membacanya be rulang kali. Baru sekali ini kami paham sesuatu makna yang sangat dalam dari satu ayat tersebut.

Allah menciptakan kita dan pasangan kita dari jenis yang sama, sama-sama manusia. Ternyata apa yang saya sampaikan ditulisan sebelumnya tertulis di sini dan itu ternyata jauh lebih dari cukup.

Perhatikan urutan dalam ayat tersebut.

1.       Cenderung

2.       Merasa tenteram

3.       Kasih

4.       Sayang

Bahkan dengan rasa cenderung pun kita sudah bisa menjawab pencarian kita dalam mencari pasangan hidup. Kita menyukai seseorang dalam sekali bertemu. Itu bisa saja terjadi dan bisa dilanjutka n dalam proses selanjutnya (taaruf). Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika rasa cenderung saja sudah menjawab apakah orang itu atau bukan. Jadi jika sudah sampai merasa tenteram (tenang) itu sudah lebih dari cukup.

Bahkan ada kisah, seseorang yang melamar seorang perempuan hanya karena laki-laki itu membaca tulisan di blognya. Atau bertemu sekali di pengajian. Berpapasan sekali di lorong sekolah. Bahkan beberapa orang hanya melihat fotonya saja ketika ditunjukan oleh murabbinya. Banyak cerita yang membuat kami tertegun dan takjub. Bagaimana bisa. Bukan tentang proses bertemunya mereka. Tapi bagaimana bisa mereka begitu percaya dan mempercayakan hidupnya kepada-Nya dan memilih cara-Nya untuk mencari pasangan hidupnya. Keyakinan yang bahkan sampai saat ini masih pasang surut pada kami.

Kasih sayang baru ada setelah akad nikah. Ketika kecenderungan terjawab dan rasa tenteram telah hidup. Pada ayat tersebut penulisan cenderung dan te nteram itu tidak menjadi satu dengan kasih dan sayang. Coba perhatikan. Kata Kasih bisa masuk dalam kelompok kata kerja (verb). Setelah meng-kasih maka timbullah sayang.  Sebenarnya saat belum halal bisa saja kita kasih ke orang itu dan bisa juga timbul sayang setelah kasih itu. Tapi, bagimana nilai kasih dan sayangnya? Berkahkah? Apakah yang sebenarnya kita cari dari hidup? Keberkahan atau sesuatu selain itu?

Ar Rum ayat 21 menjawab semuanya dengan jelas. Bahwa proses perasaan itu dari mulai cenderung – tenteram – kasih – sayang adalah proses yang akan dilalui oleh hati kita.  Ketika mencari pasangan hidup di usia ini dan dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya pada apa yang telah Allah halalkan dan haramkan. Maka, kami percaya bahwa rasa cenderung itu cukup untuk memulai. Memulai memperkenalkan diri kepadanya dan keluarganya, memulai seluruh proses keseriusan itu, tidak sekedar bermain-main.

Allah yang menyur uh kita menikah, maka Dia pasti menjamin segala hal berkaitan dengan hal itu. Proses, Jodoh, Rejeki, semuanya telah Dia jamin. Tinggal bagaimana kita beriman kepada-Nya dan pada apa yang menjadi perintah-Nya. Maka orang-orang yang meragukan-Nya pun, termasuk meragukan aturan-Nya akan selalu diselimuti rasa ragu-ragu. Ragu-ragu apakah proses itu menjamin mendekatnya jodoh. Ragu-ragu apakah dia bisa menemukan jodohnya melalui proses-Nya itu.  Atau ketika dia telah keluar dari apa yang Dia berikan, dia akan diselimuti keraguan yang tidak ada habisnya. Tentang apakah orang yang jadi kekasihnya saat ini adalah orang yang tepat. Tentang materi yang  tak kunjung cukup. Tentang keluarga yang tak kunjung saling kenal. Tentang terlalu lamanya berkasih-kasihan tapi tidak jelas kemana tujuan.

Semakin kita menjauh dari-Nya maka kita akan semakin hidup dalam keraguan. Kami memilih percaya dan mempercayakan hidup ini kepada-Nya. Dan kepercayaan kami, kami yakini aka n digantikan dengan hal yang sebaik-baiknya. Yaitu rasa tenteram dalam menjalani hidup ini.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Temanggung, 23 November 2013

©Kurniawan Gunadi

cenderung, tentram, kasih, dan sayang.. :)

Tulisan : Dengan Siapa

kurniawangunadi:

Obrolan dengan teman baik saya beberapa waktu yang lalu sangat berkesan. Karena kami adalah orang-orang yang tidak sepakat dengan konsep pacaran. Lalu kami berpikir kedepan, bagaimana kiranya kami akan merasa cocok dengan seseorang. Sebuah alasan yang seringkali digunakan oleh orang yang pacaran tentang mengenal (menjajaki dengan pacaran) pasangan terlebih dahulu biar gak salah pilih. Kami tidak sepakat dengan alasan itu dengan alasan yang tidak perlu kami utarakan di sini (nanti kepanjangan). Bagi kami, dengan keyakinan kami, ada satu hal yang kadang membuat kami cemas, kadang pula membuat kami senyum-senyum sendiri.

Kira-kira, dengan siapa kami akan bertemu? Dengan siapa kami akan dipasangkan.

Saya kira, setiap orang yang memilih pilihan untuk tidak pacaran pun memiliki rasa penasaran, rasa cemas, rasa bahagia, dan berbagai rasa lain yang terjadi dalam satu waktu. Entah itu tentang siapa dia, tentang bagaimana cara bertemu, tentang mengapa dia, tentang kapan itu terjadi, dll.

Dalam pembicaraan kami, setidaknya ada dua hal yang bagi kami itu cukup. Dengan siapa? Dengan salah satu dari dua hal ini, atau syukur-syukur dua hal ini menjadi satu sekaligus. Jika ditanya, kiranya kamu ingin menikah dengan siapa. Inilah dua hal yang (menurut kami) penting yang akan menjadi landasan kami.

Karena cinta dalam keyakinan kami baru benar-benar akan tumbuh jika sudah berada dalam ikatan, menjalani hidup bersama-sama setiap hari, mengenal karakter seseorang secara utuh dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan saat tidur.

  • Pertama, saya akan menikah dengan orang yang saya “cintai” dan “mencintai” saya (agak drama, tapi ini serius)

Cinta dalam hal ini adalah rasa kecenderungan kepada seseorang. Dalam hidup ini, seringkali kita semua termasuk saya, tertarik kepada seseorang. Dalam fase itu, kadang kita bisa melihat bahwa seseorang itu suamiable/istriable. Tapi, apakah dia juga memiliki persepsi yang sama terhadap kita. Seseorang yang saling mencintai tentu akan sangat membahagiakan ketika menikah. Kita menyukai seseorang dan dia ternyata juga menyukai kita, bukankah sebuah hal yang indah. Di dalam keyakinan kami yang tidak berpacaran, alangkah bahagianya ketika kami menyukai seseorang  dan ternyata itu berbalas. Menyukai seorang yang soleh/solehah, dan ternyata dia juga menyukai  balik.

  • Kedua, saya akan menikah dengan orang yang membuat saya “tenang”.

 Jika yang dimaksud cinta itu tidak kunjung dirasakan. Jika dia menjadi semakin absurd dan membuat kita bingung. Maka, kami berpendapat, cukup dengan seseorang yang mampu memb uatmu merasa tenang. Ketika datang seorang laki-laki kepada perempuan, lalu perempuan merasa tenang. Mungkin itu sudah cukup untuk menerimanya. Ketika laki-laki bertemu dengan seorang perempuan, dan kepada perempuan itu dia merasa tenang, itu juga mungkin sudah cukup. Cinta bisa ditumbuhkan setelah pernikahan. Merasa tenang itu penting bagi kami, kami tidak akan memilih menikah dengan orang yang membuat kami gelisah, bingung, marah, dsb. Jika diawal sudah seperti itu, bagaimana kedepannya.

Jika datang orang yang bisa membuat kita tenang, mungkin itu cukup untuk menjadi alasan menerimanya. Setiap orang mendambakan ketenangan, ketenangan itu jauh lebih mendamaikan daripada rasa nyaman. Ketenangan meliputi batin dan tubuh.  Bahkan hilang rasa khawatir, apakah dengannya ini kita akan tidak bahagia, miskin, dsb. Semua kekhawatiran itu tidak ada karena kita merasa begitu tenang dengan orang ini. Sekalipun tidak ada rasa cinta pada awalnya.

Dua hal ini, mana yang datang lebih dulu. Itu yang akan kami terima. Ditengah umur yang terus menerus bertambah, daripada bikin dosa kebanyakan. Ditengah kebingungan tentang menerka-nerka masa depan. Kami merumuskan hal ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kami ingin tahu dan kami butuhkan.

Ternyata dua hal ini cukup. Bukan soal ketampanan atau kecantikan, bukan pula soal anak siapa dan berapa hartanya. Apalagi sekedar nama almamater dan profesi. Jika saat ini kita menyukai seseorang dan ternyata dia tidak. Ya cinta memang tidak bisa dipaksakan, karena hati itu bukan dalam kuasa manusia. Mungkin sudah waktunya bagi kita merenung, apakah dia yang benar-benar kita butuhkan. Jika kita membutuhkannya, apakah dia juga membutuhkan kita. Perasaan ini bahkan membuatmu tidak tenang bukan?

Selamat mencari, semoga bertemu. Tidak hanya bertemu, tapi juga disatukan.

Temanggung, 6 November 2013

Menikahlah dengan dia yang sekali tatap, kau sudah merasa cenderung dan tenang. :)

ajinurafifah:

Rules menjadi istri yang supportif dalam pekerjaan (ala Apik) : nggak malu (dengan apapun pekerjaan suami), nggak banyak menuntut, nggak bosan bersyukur, dan nggak berhenti upgrade ilmu.

Katanya, istri magnet rejeki kan? Saya setuju. Tapi istri juga bisa jadi magnet atas rejeki yang nggak halal itu datang.

Jangan bosan, untuk kita sebagai perempuan, supaya terus mengupgrade pengetahuan dan prinsip kita–tentang halal haram harta. Terus belajar untuk jadi alarm bagi pekerjaan suami, mengingatkan untuk zakat serta sedekah, dan menguatkan kalau-kalau perlu hijrah–meski harus meninggalkan jabatan, harta, dan hal duniawi lainnya kalau ternyata…iklim kerjanya malah mendekatkan keluarga pada hal-hal yang haram.

Jangan bosan menekan ego dan nafsu kepengen ini kepengen itu supaya nggak menstimulus suami untuk mengerjakan hal yang enggak-enggak. Jangan bosan untuk bersyukur atas berapapun dan apapun pemberian suami.

Jangan bosan mendidik diri dan keluarga, untuk memahamkan bahwa rejeki yang baik bukan yang banyak, melainkan yang berkah.

Yang kuat, kita! ;)

RTM : Belum Bisa Masak?

ajinurafifah:

*Tulisan ini sangat subjektif dan berisi curhatan :D

Sebelum menikah, mungkin ibu hafal sekali wacana belajar masak saya yang tidak pernah terealisasi bahkan menjelang pernikahan. Boro-boro belajar masak, persiapan teknis menjelang pernikahan lebih membuat saya terlena. Ibu saya dulu selalu berseloroh,

“Terus gimana nanti di rumah mertua? Pasti dikira ibunya nggak pernah ngajarin.”

“Mertuaku nanti baik kok Mi.” Begitu terus jawabanku, sekaligus berdoa.

Benar saja, menjelang pernikahan (pada saat itu masih calon–) ibu mertua saya bilang,

“Nggak usah takut, nggak usah sungkan. Nggak papa, nanti masaknya belajar aja sama ibu ya.” Rupanya ibu mertua saya menangkap kekhawatiran saya dengan baik.

< p>Suami saya, pada masa PDKT itupun bilang ke orangtua saya–menegaskan bahwa bisa masak bukan sesuatu yang dia wajibkan untuk saya sebagai calon istri.

FIUH. Selameeet, selamet. wkwkwk

Dan tibalah saya menjadi seorang istri. Fulltime housewife.

Nggak kunjung belajar masak pada saat saya menjomblo adalah hal yang sangat saya sesali–tapi yaudahlah yaaa. HAHA. Daripada berandai-andai kenapa kok nggak belajar masak dari dulu-dulu, saya akhirnya belajar masak, yaa meski belajarnya baru setelah saya menikah. The power of marriage, eh kepepet maksudnya. hahaha.

Suami saya sih nggak pernah mewajibkan saya bisa/pinter masak. Tapi saya tahu dia lebih suka kalau saya masak. Jadi inilah ladang ibadah dan lahan belajar saya!

Hal yang unik dan challenging di rumah kami adalah, selera makan saya dan suami sangat berbeda. Suami doyan pedes, saya nggak. Suami makannya sayur mayur dan sedikit daging-dagingan, saya kebalikannya. Saya penggemar seafood, suami h anya bisa makan beberapa. Saya doyan masakan yang udah agak modern, selera suami sangatlah tradisional. Suami suka makanan bersantan, saya kalau ada pilihan yang lain lebih baik makan yang lain. Saya doyan buah-buahan, suami doyannya hanya beberapa–kebanyakan lebih suka kalau dijus. Daaaan masih banyak yang lain.

Saya pernah ada di titik terbawah-kenapa-kok-saya-buruk-sekali-di-dapur. Apalagi belajar menyukai/memasak makanan yang dasarnya kita nggak terlalu suka itu juga cukup susah. Heu. Nggak jarang ujungnya saya nangis, bukan masak. wkwkwk.

Pernah saya ingat betul, drama dapur yang bener-bener berurai air mata. Hahaha lebay syekali aku ni. Waktu itu suami saya sedang sakit. Badannya panas. Kelelahan bekerja. Maksud saya, biar deh saya masakin satu-dua masakan kesukaannya…yang terjadi adalah semua yang saya masak gagal total. Sayur yang pahit, bacem yang gosong, lalala yeyeye. Akhirnya saya cuma nyeplokin telur sambil nangis sedu-sedu dan dipukpuk sama Mas. Hahaha bukannya saya yang ngepukpukin dia-.- Tapi itu sedihhhh bangetttt. Huhu

Kenapa sih aku nggak jago-jago masak? Pertanyaan itu sering banget ada di kepala saya. Apalagi kalo ngebandingin sama orang lain yang udah jago aja masaknya. Bukannya termotivasi, malah ngedown. Pfft apalah dayaku yang cuma jadi remah-remah sisa gorengan yang mengendap di saringan ini. Wkwkwkwkk.

Tapi saya pikir, kalau saya nggak belajar sekarang, kapan lagi? Semua orang yang jago masak pasti juga mengalami fase-fase percobaan. Ya, meski saya paham dengan bakat yang seadanya di dapur mungkin fase percobaan saya bobotnya lebih besar hahaha. Saya juga suka menghibur diri, alangkah nikmatnya masakan saya. Diaduknya pakai cinta, diraciknya pakai do'a.

Dan saya jadi mengerti, masakan istri/ibu itu bisa menguatkan bonding dalam keluarga. Ya karena itu tadi, cinta dan doanya. Hal itu yang terus menjadi motivasi saya dalam belajar. Nggak papa, nangis yang banyak. Peluh yang banyak. Satu saat, saya akan menyaksikan diri saya yang udah lumayan mahir masak, dan ketika saya lihat prosesnya ke belakang–betapa bersyukurnya saya sudah sampai di tahap ini meski sebelumnya tergoda untuk menyerah. Meski sebelumnya payah bukan main. Ada masanya saya akan menertawai kebelumbisaan itu. Sabar, masakpun butuh jam terbang.

Hampir satu tahun pernikahan saya, meski masakan saya cuma itu-itu aja, kadang saya terharu, pengen nangis, waktu suami saya bilang,

“Dek, masak A/B/C dong…”
“Dek nggak masak kah? Udah kangen sama masakan kamu.”
“Dek, ayo aku temenin ke pasar biar kamu masak.”
“Dek ini enak!”

dan yang lain-lain.

:’)
Menu saya juga udah agak bertambah meskipun nggak banyak. Hahaa. Sekarang saya kalau masak udah agak rapi dapurnya, nggak kaya kapal pecah mau karam lagi. Sekarang juga, suami saya udah naik berat badannya. Hahahaha.

Terimakasih Mas udah membersamai proses belajarku yang bakal terus berjalan. Jangan bosen yaaa! Terimakasih udah berkenan membesarkan hati, memuji, makan masakan dengan lahap, dan support berharga lain yang mungkin bagi Mas itu nggak ada apa-apanya, tapi bagiku itu bahan bakar buat melejitkan semangat.

Akhir kata,
temen-temen, bisa masak itu emang bukan syarat wajib jadi istri. Tapi belajar masak sedari belum menikah itu adalah langkah yang baik untuk mengisi perbekalan berumahtangga. Dan buat para calon imam, skill memakan apa aja gimanapun rasanya itu kayanya harus ditambah sebelum menikah hahaha. Nggak ding, maksudnya…jangan cuma mau istri yang pinter masak, tapi nggak mau mendukung istri kalau lagi belajar masak ;) 

Oyaaa, kelebihan istri itu nggak cuma bisa masak aja ; bisa mijet, bisa berkebun, bisa ndekor rumah, jago jualan, jago mempercantik diri, mahir merapikan bersih-bersih, disayang tetangga, bermanfaat buat sekitar, mengisi peran di masyarakat–juga kelebihan yang harus disyukuri.

Belum bisa masak? Nggak papa, semangat belajar! Kita pasti bisa!!! Haha

*disclaimer: tiap rumahtangga punya metodenya sendiri ya. silahkan diseimbangkan menurut keadaan rumahtangga masing-masing ;)

Belum bisa masak? Nggak papa, semangat belajar! Kita pasti bisa!!! Haha

junitafinanty:

Rezeki nggak bakalan ketuker kok. Kalo memang itu hak milikmu, dengan sendirinya bakal mendatangimu.

Jadi tenang aja. Cukup usaha dengan cara yang halal, dan jangan lupa berdoa.

- Junita Finanty